Views: 7

KAMIS, 18 Sepetember 2025 bertempat di Gedung Pertemuan RM Alami Sayang, Bidang Pendidikan Agama Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah mengadakan workshop peningkatan kompetensi guru PAI SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini dihadiri Bapak H. Hariyadi, S.Ag.,M.SI selaku kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri, Bapak H. Mursidi, M.SI. selaku Kepala Seksi PAKIS Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri beserta jajaran dari staf Pakis Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri. Sedangkan dari penyelenggara dihadiri Hj. Rondiyah, S.E.,M.SI selaku ketua penyelenggara, sedangkan dari narasumber antara lain Ibu Arbiyati, MPd.I, Ibu Ida Rohayati, M.Pd.I, Bapak Hari Supriadi, M.Pd.I, dan Ibu Hj. Kunti Muflihah, M.PdI.

Sebelum dimulai semua peserta diberikan link untuk mengerjakan pretest. Kegiatan dimulai puku 08.00 WIB yang dipandu oleh Rahmad Setiawan guru PAI SMK Pancasila 1 Wonogiri selaku moderator pada Workshop kali ini. Selanjutnya sebagai insan pancasila tak lupa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh Erna Nurhidayati guru PAI SDN 2 Bumiharjo. Dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al- Qur’an oleh Istiqomah guru PAI SMPN 2 Wonogiri.

Selanjutnya Rondiyah selaku ketua Penyelenggara menyampaikan prakata terkait dengan maksud serta tujuan diadakannya kegiatan ini. Beliau menyampaikan tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan spiritual guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengintegrasikan Kurikulum Cinta ke dalam pembelajaran sehingga tercipta proses pendidikan yang penuh kasih sayang, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter Islami. Selain itu meningkatkan peran guru sebagai teladan di manapun berada. Guru PAI mampu menunjukkan sikap penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sasaran dari kegiatan ini adalah guru Pendidikan Agama Islam baik dari SD, SMP, SMA dan SMK dengan jumlah peserta yang diundang mencapai 110 peserta.

Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri, Haryadi menyampaikan sambutannya dalam kegiatan ini diantaranya. Ucapan terima kasih kepada Bidang Pendidikan Agama Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan kegiatan ini bekerjasama dengan Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri. Serta beliau menyampaikan kepada para peserta untuk memanfaatkan ilmu yang didapat dalam workshop peningkatan kompetensi guru PAI SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Wonogiri. Dan tak lupa beliau memberikan motivasi kepada peserta untuk selalu berperan aktif dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik. Terakhir, Haryadi membuka secara resmi Workshop peningkatan kompetensi guru PAI SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Wonogiri. Upacara pembukaan kali ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Riyanto, guru PAI SDN 1 Widoro

Materi petama tentang Deep Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam disampaikan oleh Arbiyati. beliau menyampaikan Pengertian Deep Learning dalam Pembelajaran PAI. Deep Learning di sini bukan sekadar teknologi kecerdasan buatan (AI), melainkan sebuah pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning approach). Artinya, siswa tidak hanya diarahkan untuk menghafal materi agama, tetapi juga memahami, merefleksikan, mengaitkan, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Dalam konteks PAI, Deep Learning berarti pembelajaran yang menekankan: Pemahaman yang bermakna terhadap ajaran Islam, Pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dan Proses internalisasi nilai keimanan, akhlak, dan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Konsep Deep Learning dalam PAI yang berakar pada pembelajaran konstruktivistik dan humanistik. Holistik: mengintegrasikan aspek kognitif (pengetahuan agama), afektif (keimanan, akhlak), dan psikomotorik (praktik ibadah).Tujuan Deep Learning dalam PAI tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi lebih luas. Meningkatkan pemahaman bermakna tentang ajaran Islam, bukan hanya hafalan. Menumbuhkan kesadaran beragama yang mendorong siswa mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata. Menginternalisasi nilai-nilai Islam seperti kejujuran, disiplin, kepedulian sosial, dan toleransi. Mencetak pribadi muslim yang berkarakter, sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Beliau juga menyampaikan prosedur intervensi pola pikir (mindset intervention) yang merupakan langkah-langkah sistematis yang dilakukan untuk membantu seseorang atau kelompok mengubah cara berpikirnya ke arah yang lebih positif, adaptif, dan produktif. Dimana beliau juga mengenalkan growth mindset (pola pikir berkembang) atau cara berpikir alternatif yang lebih sehat

Materi kedua tentang Pendekatan Kurikulum Cinta Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang disampaikan oleh Ida Rohayati. Pada hakekatnya Kurikulum cinta adalah paradigma pendidikan yang berpusat pada kasih sayang, ketulusan, dan penghargaan terhadap fitrah peserta didik yang menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasais pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Dalam Pendidikan Agama Islam, kurikulum cinta berarti menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kelembutan, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kasih sayang kepada sesama manusia dan alam. Pendidikan agama tidak hanya ditujukan untuk menguasai materi, tetapi menumbuhkan rasa cinta beragama sehingga lahir pribadi muslim yang beriman, berakhlak mulia, dan bahagia. Tujuan dari Kurikulum berbasis Cinta adalah untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan. Implementasi Kurikulum berbasis Cinta dalam PAI Guru menunjukkan sikap cinta dan kasih sayang sebagaimana diajarkan Rasulullah selain itu guru juga menggunakan bahasa lembut, membimbing dengan sabar, menghargai perbedaan kemampuan. selain itu terdapat 4 dimensi Implementasi Kurikulum berbasis Cinta diantaranya Cinta kepada Allah dan Rasulullah, Cinta kepada sesama manusia, Cinta kepada Ilmu, serta Cinta kepada alam dan kehidupan.

Materi keempat yaitu Pemanfaatan Coding dan AI Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang disampaikan oleh Hari Supriadi. Coding dan Artificial Intelligence (AI) bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan era digital. siswa tidak hanya belajar agama, tetapi juga belajar membuat karya digital Islami. AI membantu menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Coding dan AI digunakan untuk menyelesaikan masalah kehidupan nyata dengan nilai agama. Tujuannya embuat pembelajaran PAI lebih interaktif, menarik, dan menyenangkan. Menumbuhkan literasi digital Islami, agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Membentuk siswa yang kritis, kreatif, dan produktif dalam mengembangkan media dakwah. Mempermudah guru dalam penilaian, monitoring, dan personalisasi pembelajaran. pada sesi ini para peserta juga diajak langsung dengan mencoba membuat Coding melalui Chatgpt dan juga bersama- sama mencoba membuat aplikasi kuis yang menarik dengan memanfaatkan AI sehingga diharapkan pembelajaran nantinya lebih menarik.

Sesi terakhir Peningkatan Karakter Guru Pendidikan Islam Teladan yang disampaikan oleh Kunti Muflihah. beliau menyampaikan pentingnya peran guru Pendidikan Agama Islam sebagai pembentuk karakter. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga nilai- nilai etika dan moral. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) teladan adalah pendidik yang tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga menjadi uswah hasanah (teladan baik) bagi peserta didik, baik dalam akhlak, kedisiplinan, maupun kepedulian sosial.. Strategi Peningkatan Karakter Guru PAI Teladan antara lain dengan Pengembangan diri, menciptakan jaringan kolaborasi, refleksi diri, mengikuti program penguatan pendidikan karakter, menjadi panutan, menjalin relasi dengan murid, menciptakan lingkungan yang positif. Peningkatan karakter Guru PAI Teladan dilakukan melalui penguatan spiritual, pengembangan profesional, pembiasaan akhlak teladan, kepedulian sosial, serta refleksi diri. Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga benar-benar menjadi inspirasi dan teladan hidup bagi peserta didik. terakhir peserta juga diajak kembali mengerjakan post test untuk mengetahui seberapa dalam materi yang disampaikan narasumber yang mampu diserap oleh para peserta

Kegiatan workshop peningkatan kompetensi guru PAI SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Wonogiri ditutup oleh Mursidi selaku Kepala Seksi PAKIS Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonogiri. rec_yanuar