Komunitas Belajar (Kombel) MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Wonogiri menggelar Diklat Fungsional “Implementasi Deep Learning pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP”. Diklat dilaksanakan Kamis, 22 Mei 2025 pukul 08:00 s.d. 13:00 di Ruang Pertemuan RM Masakan Jawa Saraswati. Narasumber kegiatan Diklat ini M. Ichwan Effendi, Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri. Kegiatan Diklat dihadiri 173 guru Bahasa Indonesia SMP/MTs di wilayah Kabupaten Wonogiri.
Diklat dibuka oleh pembawa acara Lilik Rusmiyatunguru SMP Negeri 2 Pracimantoro dengan ucapan salam kepada narasumber dan peserta Diklat. Lilik Rusmiyatun membacakan susunan acara, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Bahasa Indonesia. Suripno guru SMP Negeri 2 Bulukerto, selaku moderator memandu acara. Kegiatan Diklat dimulai tepat pukul 09:00, diawali dengan doa yang dipimpin oleh Sukidi.
Acara sambutan dari Ketua Kombel MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Wonogiri, Sriyono. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) bisa menjadi wadah bagi guru mata pelajaran yang sama untuk saling berbagi pengalaman, bertukar pikiran, dan meningkatkan kompetensi profesional melalui berbagai kegiatan. Namun, masih banyak guru yang tidak aktif untuk mengikuti kegiatan MGMP, Untuk itu, beliau menghimbau agar semua guru aktif dalam kegiatan MGMP. Di akhir sambutannya, Sriyono menjelaskan bahwa kegiatan Diklat Implementasi Deep Learning ini difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri. Beliau berharap Diklat Implementasi Deep Learning dapat memberikan pemahaman lebih dalam kepada semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Beliau mengajak semua peserta untuk mendalami konsep deep learning agar dapat dipahami dan diterapkan secara efektif di sekolah masing-masing.

Sambutan berikutnya oleh Sri Daryanto (Kepala SMP Negeri 1 Jatisrono), selaku Koordinator MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Wonogiri. Beliau menjelaskan pentingnya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi guru. UKBI sangat penting bagi guru karena membantu meningkatkan kualitas pengajaran dan kemampuan berbahasa, serta mendukung pengembangan profesionalisme guru. Hasil UKBI dapat digunakan sebagai bahan evaluasi kinerja guru dan dapat menjadi bukti kemampuan berbahasa yang memadai untuk pengembangan karir guru. Setiap peserta UKBI akan mendapatkan sertifikat berstandar nasional. Sri Daryanto menghimbau semua guru mengikuti UKBI, dengan harapan guru Bahasa Indonesia dapat mengembangkan karirnya.

Acara inti, pemaparan materi Diklat oleh M. Ichwan Effendi, Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, dengan tema “Implementasi Deep Learning pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP”. Acara dipandu Suripno, guru SMP Negeri 2 Bulukerto. Sebelum memaparkan materi, narasumber menyampaikan pesan dari ruang pengawas, hasil rapor pendidikan 2025, guru dimohon berfokus pada kemampuan literasi. Terkait terbitnya surat edaran implementasi 7 kebiasaan Anak Indonesia hebat, guru memiliki peran penting dalam penerapannya. Guru dapat menjadi teladan, fasilitator, dan motivator bagi siswa untuk membiasakan diri dengan kebiasaan positif tersebut. Gerakan 7 Kebiasaaan Anak Hebat diharapkan menjadi fondasi dalam mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global dan berdaya saing di tahun 2045.
Selanjutnya, narasumber memaparkan tentang latar belakang mengapa pendekatan deep learning penting diterapkan dalam pembelajaran. Penerapan deep learning dalam pembelajaran, dilatarbelakangi oleh permasalahan ketimpangan mutu pendidikan, yang terkait dengan literasi, numerasi, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Ketimpangan yang muncul dapat dilihat di berbagai media sosial, sungguh memprihatinkan. Pendekatan deep learning direkomendasikan untuk diterapkan dalam pembelajaran. Dengan pendekatan deep learning, guru dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih dinamis, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan, serta berdaya saing global. Pendekatan ini mampu mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar menerima informasi secara pasif. Siswa diajak untuk menghubungkan teori yang dipelajari dengan dunia nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
Tujuan utama dari deep learning adalah menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, kritis, dan bermakna, dengan memperhatikan tiga elemen utama, yaitu Meaningful (bermakna), Joyful (menyenangkan), dan Mindful (berkesadaran). Contoh implementasi deep learning pada mapel Bahasa Indonesia, di antaranya pembelajaran elemen membaca dan berbicara dengan metode Problem Based Learning (PBL), pembelajaran menulis dengan menerapkan metode Proyek Based Learning (PjBL), pembelajaran menyimak dan mendengarkan dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Inkuiri, pembelajaran membaca dan memirsa dengan Metode Flipped Classroom.
Dengan mengimplementasikan konsep deep learning, para siswa diharapkan tidak hanya belajar untuk menguasai materi, tetapi juga untuk memahami tujuan dari apa yang mereka pelajari, mengaitkannya dengan masa depan mereka, serta menyadari bagaimana ilmu yang mereka peroleh bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Di akhir materi, peserta diklat berkesempatan untuk presentasi RPP deep learning dan ditanggapi oleh peserta lainnya.


Pada akhir kegiatan moderator Suripno dalam closingnya, mengucapkan terima kasih kepada narasumber dan berharap bapak/ibu guru peserta Diklat akan menindaklanjuti materi yang telah didapat dan mengimplementasikannya di sekolah masing-masing yang tentunya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.




Sri Supanti, S.Pd. (SMP Negeri 2 Ngadirojo)