Views: 56
Dalam upaya memperkuat kualitas asesmen pembelajaran Bahasa Inggris yang berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills atau HOTS), MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Wonogiri menyelenggarakan workshop pada Selasa, 20 Mei 2025. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pertemuan Rumah Makan Saraswati Wonogiri, dan dihadiri oleh guru anggota MGMP Bahasa Inggris se-Kabupaten Wonogiri. Workshop dimulai pada pukul 08.00 WIB, diawali pembukaan oleh Marlina Tri Handari, kemudian dilanjutkan menyanyikan Lagu Indonesia Raya.

Pembukaan acara oleh koordinator MGMP Bahasa Inggris
Forum ini menghadirkan tiga narasumber berpengalaman: Agus Rudi Purwanto, Sri Nurhasanti, serta Subroto, yang masing-masing membahas aspek berbeda dari asesmen berbasis HOTS dalam konteks Bahasa Inggris.
Panduan Penyusunan Soal HOTS
Agus Rudi Purwanto membuka sesi dengan materi bertema “Panduan Penyusunan Soal High Order Thinking Skills”. Ia menjelaskan prinsip dasar dalam membedakan soal LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan HOTS, serta memberikan panduan langkah demi langkah dalam merancang soal yang menuntut keterampilan analisis, evaluasi, dan kreasi dari siswa.
“Penyusunan soal HOTS harus dimulai dari tujuan pembelajaran yang jelas. Guru perlu mengaitkan kompetensi dengan konteks nyata yang menantang siswa untuk berpikir lebih dalam, bukan hanya mengingat,” jelas Agus. Ia juga membagikan contoh-contoh soal HOTS yang relevan dengan kurikulum Bahasa Inggris SMP, seperti menganalisis pesan dari teks naratif atau mengevaluasi argumen dalam teks eksposisi.
Merancang Soal Pilihan Ganda yang Bermakna
Materi kedua disampaikan oleh Sri Nurhasanti dengan topik “Designing Multiple Choice Questions”. Ia menekankan bahwa soal pilihan ganda pun dapat dirancang untuk mengukur HOTS, asalkan opsi jawabannya dirancang dengan baik dan mengarah pada proses berpikir kritis.
“Kunci dari soal pilihan ganda HOTS adalah pada stem yang menantang dan pilihan jawaban yang menggambarkan cara berpikir berbeda siswa. Misalnya, menanyakan alasan di balik tindakan tokoh dalam teks, atau meminta siswa menyimpulkan informasi tersirat,” ujarnya.
Sri juga menambahkan pentingnya menghindari soal yang hanya mengandalkan hafalan atau terjemahan langsung, serta menyarankan guru untuk menghindari distraktor (jawaban pengecoh) yang tidak logis atau terlalu mudah dikenali.
Menilai Soal Menjodohkan, Esai Pendek, dan Esai Panjang
Subroto, menutup sesi dengan materi “Assessment of Matching, Short Essay, and Essay”. Ia membahas bagaimana ketiga jenis soal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengukur beragam dimensi berpikir siswa, dari pemahaman hingga kemampuan berargumen.
“Soal matching cocok untuk mengukur pemahaman konsep dasar, sementara esai pendek dan esai panjang ideal untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam menyusun argumen, mengembangkan ide, dan menyampaikan opini secara runtut,” kata Subroto. Ia juga menekankan perlunya rubrik penilaian yang objektif dan transparan agar penilaian soal esai dapat dilakukan secara adil dan terstandar.
Komitmen Guru MGMP: Praktik Nyata di Kelas
Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi dan refleksi kelompok, di mana para guru peserta membagikan pengalaman dan tantangan mereka dalam menyusun soal HOTS di kelas masing-masing. Banyak peserta mengaku termotivasi untuk mulai mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah dipelajari ke dalam asesmen mereka.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Belajar Bahasa Inggris Wonogiri menunjukkan komitmen nyata dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan asesmen yang bukan hanya menilai pengetahuan, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif di tengah tuntutan zaman.



Peserta Workshop dari berbagai Sub Rayon
(Rina Novi_SMPN 2 Wonogiri)
