Views: 45

Wonogiri, Jawa Tengah – Sebanyak kurang lebih 100 Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Wonogiri mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi yang berfokus pada Deep Learning dan Moderasi Beragama. Acara yang diselenggarakan di SMPN 1 Wonogiri pada Selasa (20/5/2025) ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di bidang pendidikan agama, termasuk Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Wonogiri, pengawas PAI, Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI Kabupaten Wonogiri, serta Ketua MGMP PAI Sub Rayon se-Kabupaten Wonogiri.

Acara dibuka dengan lantunan ucapan syukur dan sholawat yang dibawakan oleh Mujiono, dilanjutkan dengan khidmatnya seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ketua MGMP PAI Kabupaten Wonogiri, Darmawan Basri, dalam laporannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme para guru PAI yang mendaftarkan diri dalam kegiatan ini. Ia juga menjelaskan bahwa sumber pendanaan acara ini berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri sebagai wujud dukungan terhadap pengembangan kompetensi guru, khususnya guru PAI. Darmawan menekankan pentingnya intensitas penyelenggaraan MGMP di tingkat sub rayon sebagai wadah berkelanjutan untuk peningkatan kualitas guru.

Kepala Seksi PAKIS Kemenag Wonogiri, Mursidi, memberikan sambutan dan arahannya. Beliau menekankan pentingnya keterbukaan pemikiran bagi guru PAI sebagai bagian integral dari pengarusutamaan Moderasi Beragama. Mursidi juga menyoroti tantangan era digital, di mana guru PAI diharapkan mampu berinovasi dalam menyampaikan materi pembelajaran di tengah gempuran media sosial. Beliau menegaskan peran guru sebagai agent of change atau agen perubahan di lingkungan sekolah. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Nasikin, memohon kelancaran dan keberkahan kegiatan.

Sesi inti acara diisi dengan pemaparan materi Deep Learning oleh Santoso. Dalam presentasinya, Santoso menguraikan latar belakang pentingnya implementasi Deep Learning dalam pendidikan. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif (olah pikir), tetapi juga melibatkan aspek afektif (olah rasa dan olah hati) serta psikomotorik (olah raga). Santoso mengutip pidato Menteri Pendidikan yang menyatakan bahwa “Sangat Miskin manakala murid hanya mendasarkan sumber ilmu hanya guru,” yang menggarisbawahi bahwa sumber ilmu pengetahuan bagi siswa tidak terbatas pada guru dan buku teks, melainkan dapat dieksplorasi dari berbagai sumber. Menurut Santoso, reformasi pendidikan melalui Deep Learning menuntut guru PAI untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi agar relevan dengan perkembangan zaman.

Narasumber kedua, Tutik Rijjani, kemudian menyampaikan materi mengenai Moderasi Beragama. Sesi ini bertujuan untuk membekali guru PAI dengan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip moderasi beragama dan bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran di sekolah.

Kegiatan peningkatan kompetensi ini diharapkan dapat membekali guru PAI di Kabupaten Wonogiri dengan pengetahuan dan keterampilan terkini dalam Deep Learning serta penguatan pemahaman tentang Moderasi Beragama. Dengan demikian, guru PAI diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, mendalam, dan relevan bagi siswa, serta berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah.

(Oleh Awal Aqsha Nugroho)